Banjir Jakarta Bikin Heboh! Pramono Sebut Program Sumur Resapan ‘Era Anies’ Jadi Penyelamat Meski Tak Dibuat Baru

Jakarta kembali dilanda banjir parah setelah hujan ekstrem mengguyur wilayah ibu kota, dan respons pemerintah provinsi menjadi sorotan publik. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui kondisi ini dan menyinggung penggunaan sumur resapan yang sebelumnya dibangun pada masa kepemimpinan Anies Baswedan sebagai salah satu alat penanganan banjir di Jakarta.

Peristiwa banjir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dampak hujan deras dengan intensitas luar biasa di Jakarta, yang menurut keterangan Pramono mencapai curah hujan hingga 267 milimeter per hari angka yang jarang terjadi di ibu kota. Kondisi itu menjadi salah satu pemicu terjadinya genangan dan banjir di sejumlah wilayah, termasuk di kawasan Jakarta Timur dan Barat.

Sumur Resapan: Warisan Anies yang Dimanfaatkan Pemerintah Sekarang

Dalam menghadapi banjir yang menerjang Ibukota pada Jumat (23 Januari 2026), Pramono mengatakan bahwa pemerintah provinsi akan memanfaatkan sumur resapan yang sudah tersedia di berbagai titik Jakarta. Ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak berencana membuat sumur resapan baru, tetapi akan mengoptimalkan sumur resapan yang sebelumnya dibangun, termasuk pada masa Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pramono menegaskan bahwa dirinya tidak ingin memperdebatkan keberadaan sumur resapan, sebab menurutnya apapun yang dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan banjir akan dipakai. “Yang ada ya kita manfaatkan, kita fungsikan. Tetapi sampai hari ini kita belum merencanakan membuka sumur resapan baru,” ujarnya.

Menurut data yang dikemukakan dalam beberapa laporan, Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta telah membangun puluhan ribu sumur resapan di berbagai kota administrasi Jakarta dan Kepulauan Seribu selama periode 2019–2024. Jumlah sumur resapan ini menjadi salah satu bukti upaya sebelumnya untuk memperbaiki drainase dan mereduksi genangan air.

Penanganan Banjir Jakarta: Strategi Pramono

Pramono menjelaskan bahwa penanganan banjir Jakarta dilakukan secara bertahap dan komprehensif. Pendekatan ini terbagi menjadi dua skema besar: jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, langkah yang diambil adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mencoba mengurangi hujan ekstrem, sementara normalisasi sungai menjadi fokus jangka panjang untuk mengantisipasi banjir yang berulang.

Selain itu, dirinya telah memerintahkan Dinas Sumber Daya Air untuk menormalisasi beberapa sungai utama di Jakarta termasuk sungai seperti Ciliwung, Krukut, dan Cakung Barat sebagai bagian dari upaya menanggulangi banjir yang lebih besar dan berulang.

Walau menyatakan optimisme terhadap strategi ini, Pramono juga mengakui bahwa curah hujan yang mencapai angka luar biasa membuat sistem drainase dan pompa air tidak mampu bekerja secara maksimal sepanjang waktu. Kritik dan saran dari masyarakat pun terus mengalir selama masa penanganan banjir.

Respons Publik dan Kontroversi Kebijakan

Pernyataan Pramono yang menyebut penggunaan sumur resapan “bukan untuk diperdebatkan, tapi dimanfaatkan”, menarik perhatian publik, terutama di media sosial. Banyak netizen membahas efektivitas berbagai kebijakan banjir di Jakarta mulai dari strategi era gubernur sebelumnya hingga upaya jangka panjang yang tengah dilakukan saat ini.

Permasalahan banjir di Jakarta sejatinya bukan hal baru. Sejak dulu, pengelolaan banjir kerap menjadi bahan diskusi dan kritik publik. Pola hujan ekstrem, banjir kiriman dari wilayah hulu, hingga kondisi drainase yang belum optimal menjadi faktor yang sering disebut oleh masyarakat maupun pengamat.

Beberapa warga dan pengamat menilai bahwa sumur resapan hanya bisa memberikan dampak terbatas jika tidak diimbangi dengan penanganan sungai, drainase yang bersih, serta sistem pengelolaan air yang lebih terintegrasi. Namun di sisi lain, ada yang melihat langkah untuk tetap menggunakan sumur resapan dan memaksimalkan infrastruktur yang sudah ada sebagai keputusan praktis dalam menghadapi kondisi darurat banjir.

Banjir Jakarta: Dampak dan Kondisi Terkini

Beberapa wilayah di Jakarta tetap mengalami genangan, meskipun status beberapa daerah sudah kembali normal. Misalnya, sebagian besar genangan air di kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Timur telah surut setelah beberapa hari banjir. Namun sejumlah titik kecil masih tergenang dan memengaruhi aktivitas warga serta arus lalu lintas.

Banjir Jakarta juga sempat menyebabkan gangguan transportasi dan aktivitas warga di sejumlah jalan utama, termasuk kawasan Jak-Tim, semisal Cawang. Kondisi ini mempertegas bahwa meskipun beberapa langkah mitigasi telah dilakukan, tantangan penanggulangan banjir dipandang masih perlu upaya berkelanjutan dan strategi lebih terintegrasi.

Banjir yang kembali melanda Jakarta menjadi ujian serius bagi pemerintah provinsi saat ini. Dalam menghadapi kondisi ini, Gubernur Pramono Anung memilih untuk mengoptimalkan infrastruktur yang sudah ada, termasuk memanfaatkan sumur resapan dari era Anies Baswedan, sebagai bagian dari pendekatan penanganan banjir. Selain itu, strategi normalisasi sungai dan operasi cuaca menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang dan pendek.

Dengan meningkatnya intensitas hujan ekstrem akibat perubahan iklim dan pola cuaca global, penanganan banjir Jakarta diperkirakan akan menjadi agenda penting yang harus terus dikembangkan melibatkan kombinasi antara kebijakan, teknologi, serta dukungan masyarakat luas.